uploaded.to

Halal Guide

Label

Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Desember 2010

Music of Love

Berbagi kasih.......
Berbagi kasih.....
Music of Love
The Music Of Love. This picture was taken in Tenganan Village, Bali (2010). Tenganan is the most famous Bali Aga (original Balinese) village and is located close to Candi Dasa in East Bali. A man was playing bamboo music to entertain a disabled child which is not his son, but he loves this child likes he loves his own son. (Photo and caption by Ario Wibisono) #
sumber: http://www.boston.com/bigpicture/2010/11/national_geographics_photograp.html

Senin, 08 November 2010

Prasangka Baik

„Wahai istriku, sesungguhnya di kota Madinah ini sedang tersebar berita tentang Ummul Mukminin Aisyah. Bagaimanakah pendapatmu tentang berita itu ? "

Berita Bohong
Kalimat pertanyaan diatas adalah pertanyaan Abu Ayyub kepada istrinya tentang berita bohong yang sedang menghangat di kota Madinah tentang Ummul Mukminin Aisyah ra yang dituduh berbuat serong dengan Safwan bin Mu’atthal As-Silmi. Tuduhan tersebut dilontarkan oleh kaum munafiqin yang dikepalai oleh Abdullah bin Ubay bin Salul. Mereka adalah sebagian penduduk Madinah yang tidak suka akan kehadiran kaum Muslimin yang berhijrah ke kota Madinah.

Peristiwa ini berawal saat Aisyah ra tertinggal dari rombongan Rasulullah ketika beliau kembali dari peperangan melawan bani Musthaliq. Aisyah yang tertinggal dari rombongan, ditemukan oleh Shafwan yang bertugas berjalan di belakang pasukan. Ketika Shafwan menemukan Aisyah yang sedang terbaring berselimutkan kainnya, Shafwan bertanya,
„Mengapa Anda tertinggal ?"

Shafwan segera mendekatkan untanya pada Aisyah dan mempersilahkan beliau untuk menaikinya. Shafwan kemudian menuntun onta yang ditunggangi Aisyah melanjutkan perjalanan menuju Madinah. Melihat peristiwa ini, kaum munafiqin tidak mau kehilangan kesempatan untuk menjatuhkan kehormatan keluarga Rasulullah dengan mengeksploitasi peristiwa itu dan melontarkan tuduhan yang sangat keji.

Bagaimanakah sikap kaum muslimin ketika mereka mendengar berita yang belum diketahui kebenarannya tersebut, yang dilontarkan oleh kaum munafiqin terhadap Ummul Mukminin Aisyah dan Shofyan ?

Sikap kaum muslimin
Kaum muslimin pada waktu itu terbagi dua dalam menanggapi kasus tersebut. Ada yang yakin bahwa berita tersebut hanyalah fitnah orang-orang yang tidak suka kepada keluarga Rasulullah saw., ada pula yang secara langsung atau tidak langsung membenarkan berita tersebut lewat kata-kata dan sikap mereka. Keluarga sahabat Abu Ayyub termasuk kedalam kelompok kaum muslimin yang berprasangka baik kepada Aisyah dan Safwan. Berikut ini adalah petikan dialog antara Abu Ayyub dan istrinya tentang kasus diatas :
„Wahai istriku, sesungguhnya di kota Madinah ini sedang tersebar berita tentang Ummul Mukminin Aisyah. Bagaimanakah pendapatmu tentang berita itu ? "
Istri abu Ayyub berbalik bertanya, „Wahai suamiku, andaikan engkau menjadi Shafwan apakah engkau pernah berpikir untuk melakukan perbuatan serong dengan Ummul Mukminin Aisyah ?"
„Tentu saja tidak !", jawab Abu Ayyub.
„Wahai suamiku, jika aku menjadi Aisyah, aku pun tidak akan pernah berpikir untuk mengkhianati Rasulullah. Dan ketahuilah, bahwa Shafwan itu jauh lebih baik daripada engkau, dan Aisyah itu jauh lebih baik daripada aku. Jika terhadap kita saja hal itu tidak mungkin terjadi, bagaimana mungkin hal itu terjadi orang-orang yang lebih baik dari kita ? (yaitu Shafwan dan Aisyah)".

Bagaimana seharusnya bersikap ?

 
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. 49:12)

Allah menyebutkan bahwa sebagian dari prasangka adalah dosa. Memang benar, karena pada kenyataannya prasangka itu hampir selalu mengikuti keinginan hawa nafsu. Ketika seseorang mendapatkan sesuatu berita „negativ" (yang belum pasti kebenarannya), maka dengan sigapnya syaitan duduk disampingnya, menambahi berita itu dengan beribu macam dugaan dan menbisikannnya ke dalam hati manusia.
Menyadari hal tersebut, hendaklah kita segera menepis segala lintasan pikiran, dugaan, prasangka (atau entah apa lagi namanya), sehingga kita tidak terjerumus ke dalam dosa dan segera beristighfar minta ampun kepada Allah.

Selanjutnya Allah pun melarang kita kaum muslimin mencari-cari kesalahan orang lain (apalagi saudara sendiri) dan menggunjing mereka, hingga Allah memisalkan perbuatan tersebut seperti memakan daging saudara sendiri. Siapakah yang sudi memakan daging seperti itu ?

Jika kita kebetulan mendengar sesuatu hal tentang saudara kita, yang belum teruji kebenarannya, maka wajiblah bagi kita untuk mendahulukan prasangka baik (husnudzon) sebelum prasangka buruk (su’udzon), seperti yang dicontohkan oleh keluarga Abu Ayyub diatas. Prasangka baik inilah yang akan menjadikan hubungan persaudaraan (ukhuwah) semakin erat dan melindungi kita dari penyakit hati iri dan dengki terhadap saudara seiman.

Ikatan persaudaraan yang dilandasi oleh iman, yang terlindung dari gerogotan prasangka buruk dan kedengkian inilah yang akan mampu membangun bangunan Islam yang tahan menghadapi serangan panas, hujan dan badai.

Nisaa
Sumber : Al-Qur'an, Sunnah, Shiroh Nabi


diambil dari http://nisaonline.tripod.com/naskah/9605ut.htm

Kamis, 21 Oktober 2010

Renungan: PASIR

Tulisan ini didapat dari milis Pakan Iwak ( pakan-iwak@googlegroups.com )

Semoga bermanfaat.


PASIR
Ini sebuah kisah tentang dua orang sahabat karib yang sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar dan salah seorang menampar temannya. Orang yang kena tampar merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir: “Hari ini, sahabat terbaikku menampar pipiku.”

Mereka terus berjalan sampai akhirnya menemukan sebuah oasis. Mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, tapi dia berhasil diselamatkan oleh sahabatnya. Ketika dia siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu: “Hari ini, sahabat terbaikku menyelamatkan nyawaku.”

Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya “Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir dan sekarang menuliskan ini di batu?”

Sambil tersenyum temannya menjawab, “Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan itu. Dan bila sesuatu yang luar biasa baik terjadi, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar takkan pernah bisa hilang tertiup angin.”

Sobat…
Dalam hidup ini ada kalanya kita dan orang terdekat kita berada dalam situasi yang sulit, yang kadang menyebabkan kita mengatakan atau melakukan hal-hal yang menyakiti satu sama lain. Juga terjadinya beda pendapat dan konflik karena sudut pandang yang berbeda.

Oleh karena itu, sebelum kita menyesal di kemudian hari, cobalah untuk saling memaafkan dan melupakan masa lalu…

Jumat, 01 Oktober 2010

Kisah nyata di warung makan

Suatu renungan yang cukup menyentuh.... disadur dari milis otomotif@yahoogroups.com berjudul "Renungan jelang buka puasa"; copy paste apa adanya. Terima kasih P.Yuwono.Hadi, atas ijin copy paste nya.
Semoga bermanfaat.....
--
Karena hujan yg tidak kunjung berhenti, akhirnya saya memutuskan menerobos hujan karena hari sudah malam...
Dan sampai ciputat, ini perut dah ga bisa diajak kompromi, akhirnya saya memutuskan mampir di warung nasi tenda dipinggir jalan ciputat..
Lagi asik asiknya menikmati pecel lele, masuklah seorang bapak, dengan istri dan 2 anaknya..
Yg menarik adalah kendaraan mereka adalah gerobak dorong.. Dan bapak ini memesan 2 piring nasi dan ayam goreng utk istri dan anaknya.

Pertamanya sih ga ada yg menarik, tetapi ketika saya selesai makan, ada yg menarik hati saya..
Ternyata, yg menikmati makanan itu hanya istri dan anaknya. Sedangkan sang bapak hanya melihat istri dan anaknya menikmati makanan ini.
Sesekali saya melihat anak ini tertawa senang sekali, dan sangat menikmati ayam goreng yg dipesan oleh bapaknya..
Saya perhatikan, wajah sang bapak, walau tampak kelelahan tetapi ada senyum bahagia di wajahnya..
Lalu saya mendengar dia berkata.."makan yg puas to..ini hari ulang tahunmu.."

Saya mau nangis mendengarnya..seorang bapak, dgn keterbatasannya,sebagai (mungkin) pemulung.. memberi ayam goreng murahan di pinggir jalan, utk hadiah anaknya ultah..

Hampir hampir mau menangis rasanya diwarung itu..
Segera sebelum air mata tumpah, saya berdiri, dan membayar makanan saya, dan juga dgn pelan pelan saya bilang sama penjaga warung..."mas,tagihan bapa itu, saya yg bayar..dan tolong tambahin ayam goreng dan tahu tempe"

Lalu lekas lekas saya pergi.

Kisah ini ditulis, utk bahan perenungan...  Jangan pernah mengeluh.. :)